Hari ini, sesuai janji, Mama mengajak Chacha dan Awan pergi ke kebun binatang. Chacha dan Awan tampak sangat antusias. Mereka tak sabar melihat berbagai macam hewan yang ada di sana.
Dalam perjalanan menuju kebun binatang, Faza dan Chika melihat patung Surabaya. Mereka tampak takjub. Mama tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Kalian tahu, nggak? Patung itu ada ceritanya, loh!"
“Cerita apa, Ma?” tanya Awan.
“Kalian tahu, dari mana asal usul nama kota Surabaya ini?”
“Nggak tahu,” jawab Awan dan Chacha serempak.
“Mau masuk dulu, atau cerita dulu?” tanya Mama lagi, saat mereka sudah berdiri di depan loket pembelian tiket.
“Cerita sambil jalan, dong Ma!“
“Wah, bibir Mama bisa kering, dong. Ya udah, kita cerita sambil jalan, ya?“
Awan dan Chacha sangat senang. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
“Jadi, gimana ceritanya, Ma?“ tanya Awan.
“Oke, begini ceritanya... “
Dahulu, hiduplah ikan Sura (hiu) dan Baya (buaya) yang selalu berebut daerah kekuasaan. Mereka berdua hidup di lautan yang luas. Mereka selalu berkelahi untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat dari yang lain. Hingga suatu hari, Baya merasa lelah harus terus berkelahi dengan Sura.
“Sura, tidakkah kamu merasa lelah terus-terusan berkelahi memperebutkan daerah kekuasaan denganku?“ tanya Baya.
“Apa maksud kamu?“ tanya Sura tak mengerti.
“Aku lelah setiap hari berkejaran, saling serang, dan terus saja berkelahi denganmu. Semua itu hanya karena kita berebut makanan dan daerah kekuasaan. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?” Baya memberi usul.
“Bagaimana? Apa isi kesepakatan itu?“ Sura mulai tertarik.
“Begini, kamu boleh berburu, mencari makan, dan melakukan apa saja di lautan. Laut menjadi daerah kekuasaanmu. Tapi, kamu tidak boleh mencari makan, atau melakukan apapun di daratan, karena itu adalah daerah kekuasaanku. Bagaimana? Kamu setuju?“ tanya Baya.
Sura terdiam. Ia mempertimbangkan apa yang dikatakan Baya. Lautan sangat luas, tentu lebih banyak makanan di laut.
“Baiklah, aku setuju. Tapi awas, jangan sampai kamu berani masuk daerah kekuasaanku. Kalau berani, aku akan menggigit ekormu hingga putus,“ kata Sura.
“Aku tak akan memasuki daerah kekuasaanmu. Tapi, kamu juga harus ingat! Daratan adalah daerah kekuasaanku, jadi jangan sampai aku melihatmu memasukinya, apalagi mencari makan di sana. Setuju?“
“Setuju,“ jawab Sura mantap.
Sejak saat itu, mereka tak lagi berkelahi untuk memperebutkan daerah kekuasaan. Keduanya hidup damai di wilayahnya masing-masing. Suatu hari, Sura melihat makanan di lautan semakin menipis, bahkan nyaris habis. Sura merasa harus mencari makan di tempat lain. Tapi, di mana?
“Ah, kenapa aku tak mencari di daratan saja?“ pikir Sura, “tapi kalau Baya tahu, aku bisa habis digigitnya.“
“Aku akan melakukannya diam-diam sehingga Baya tidak tahu. Aku akan mencari makan di daratan ketika Baya tidur,“ kata Sura dalam hati.
Pada malam harinya, Sura pergi ke darat, dan memakan ikan yang ada di sungai. Baya yang tengah tertidur lelap tak menyadari perbuatan Sura. Selama beberapa waktu lamanya, Sura berhasil mengelabui Baya.
Hingga suatu hari, Baya menyadari ikan-ikan di sungai semakin sedikit. Baya mulai curiga, jangan-jangan Sura memakan ikan di daerah kekuasaannya. Akhirnya, Baya mengintai di tempat persembunyiannya, mengamati perilaku Sura. Dan ternyata, Baya mendapati Sura sedang menangkap dan memakan ikan di sungai. Baya sangat marah.
“Sura, tega kau melanggar perjanjian kita! Bukankah kamu sudah berjanji, tidak akan mengambil makanan di daerah kekuasaanku? Apa yang kamu lakukan?“
Sura yang terkejut dengan kedatangan Baya, gelagapan. Bingung harus mencari alasan apa.
“A... apa yang kamu katakan, Baya? Ini, kan di air? Bukankah laut dan sungai sama-sama air, jadi keduanya masuk daerah kekuasaanku?“ Sura memberi alasan.
“Sungai ini ada di daratan, jadi masuk daerah kekuasaanku! Kamu sudah melanggar perjanjian kita!“
“Mana bisa, sungai ini kan air! Jadi aku tidak melanggar perjanjian!“ Sura masih berusaha mengelak.
“Sudah aku katakan, jika sampai kamu melanggar perjanjian kita, aku akan menggigit ekormu hingga putus! Jangan salahkan aku, kalau sekarang aku menggigitmu!” Baya yang murka menyerang Sura.
Keduanya saling serang dan saling gigit. Baya berhasil menggigit ekor Sura di bagian kanan. Sura pun demikian, berhasil menggigit ekor Baya. Pertarungan itu terjadi hingga berhari-hari. Air sungai yang tadinya jernih, berubah jadi merah karena darah keduanya. Tak ada yang kalah, dan tak ada yang mau mengalah. Sura dan Baya terus saling serang hingga keduanya melelahan, dan akhirnya mati.
“Nah, masyarakat sekitar yang terkesima dengan kisah itu, mengabadikannya menjadi nama kota kita ini, Surabaya. Itulah kenapa, lambang kota Surabaya adalah ikan hiu dan buaya,“ kata Mama mengakhiri cerita.
“Wah, Sura dan Baya hebat, ya Ma? Mereka sama-sama kuat,“ kata Awan.
“Ih, hebat apanya? Buat apa kuat, kalau hanya dipakai untuk berkelahi, ya kan, Ma?“ sahut Chacha. Mama tersenyum melihat mereka berdua.
“Kira-kira, apa hikmah yang bisa kalian ambil dari cerita Sura dan Baya ini?“ tanya Mama. Awan yang sedang minum, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Segera ditelannya air dalam mulutnya.
“Kalau mau dibilang hebat, harus kuat, dan jangan mau kalah dari orang lain!” jawab Awan penuh semangat.
“Bukan itu, Mas!” sahut Chacha.
“Lalu apa?“ tanya Mama pada Chacha.
“Apapun masalahnya, berkelahi itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah, ya ka, Ma?“
“Benar, karena berkelahi tidak memberikan jawaban. Lebih baik dibicarakan baik-baik, agar ditemukan solusi dari tiap masalah yang ada. Kalau diselesaikan dengan berkelahi, menang jadi arang, kalah jadi abu.“ Mama menjentik hidung Awan yang tersipu malu.
“Makanya, Mas! Jangan suka berkelahi.” kata Chacha.
“Kan kamu yang senang mengajak berkelahi,“ sahut Awan sambil berlari mengejar Chacha.
“Mama..., tolong, Ma! Chacha dikejar Sura...“ teriak Chacha sambil tertawa.
Mama geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya itu.
-
Di era digital dan pasar online seperti sekarang membuat banyak orang berpikir untuk memulai bisnis. Karena banyaknya kemudahan yang ditawa...
-
@Joeragan Artikel, Lembaga Training Online Yang Tak Hanya Melatih, Tapi Juga Memberdayakan PerempuanMengikuti beberapa training di @Joeragan Artikel membuat saya membuka mata. Bahwa dengan menulis, saya bisa menjadi apa saja. Cit...
-
Assalaamu'alaikum Selamat malam. Ini pertama kalinya saya menulis di blog. Perkenalkan nama saya Ratna. Saya seorang crafter yang mera...
Asal Usul Nama Kota Surabaya
Hari ini, sesuai janji, Mama mengajak Chacha dan Awan pergi ke kebun binatang. Chacha dan Awan tampak sangat antusias. Mereka tak sabar ...

1 comments
Waaah, baru tahu nih cerita asal usul Surabaya ini.
ReplyDeleteNtar aku ceritain ke Aira, ah. Dia paling suka nih Mbak kalo diceritain cerita seperti ini. TFS ya Mbak :)
Terima kasih sudah mampir. Tinggalkan komentar agar saya tahu kamu sudah mampir ya. 😘😘